BAHASA JAWA tekan angka bunuh diri



Anak-anak dan remaja singapura mudah putus asa, salah satu implikasinya memiliki dorongan bunuh diri. Itu sebabnya angka kematian karena bunuh diri di negeri singa putih itu sedemikian tinggi.
Tahukah anda, salah satu penyebab mengapa anak dan remaja di negeri itu rentan bunuh diri? Ini dia jawabanya. Salah satu sebab yang mustahil diabaikan, apa lagi kalau bukan perbendaharaan kata yang terbatas. Anak-anak di Singapura sejak kecil dan memasuki usia sekolah wajib mahir tiga bahasa; Inggris, Mandarin, Melayu.
Baik disadari atau tidak, lemahnya penguasaan salah satu bahasa sebagai bahasa ibu menyebabkan anak tidak mampu merumuskan perasaan dan pengalaman yang sedang dialami. Awalnya pelaku bunuh diri mengalami frustasi atau gangguan jiwa terkait ketidakmampuan merumuskan perasaannya dan pengalamannya.
Berbeda jauh dengan anak-anak keturunan Jawa. Anak-anak di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, terutama menguasai betul bahasa ibu dalam hal ini adalah bahasa jawa. Hasilnya, anak-anak bani Jawa mudah merumuskan perasaan dan pengalaman pribadi. Kalaupun harus marah, mereka terbiasa memformulasikan dengan banyak kata. Seperti ini misalnya; “anyel”, “mangkel”, “jengkel”, “nesu”, “ngamuk”.
Ini sekedar saran. Belajarlah ke Jawa jika tidak ingin putra tersayang mudah frustasi merumuskan perasaan hati. Intinya, kuasailah bahasa ibu baru belajar bahasa lain.

Komentar